Mangapa Prof. Sofian Mencabut Surat Pernyataannya
— Sutoyo Abadi : 22.07.2025
Paska pencabutan surat pernyataannya tertanggal 17 Juli 2025 dari wawancaranya dengan DR. Rismon Hasiholan Sianipar, terpantau langsung menjadi topik trading di berbagai media.
Dari berbagai pendapat atau komentar yang beragam, marah, sedih dan menyesalkan atas kejadian tersebut. Prof. Sofian Effendi mengapresiasi dengan lapang dada dan mengerti apa yang dipikirkan, dirasakan dan menganggap wajar dari pro kontra yang muncul, dan semua adalah kebaikan dalam semangat perjuangan.
Dari info internal dari Maklumat Yogyakarta, pasca Rapat terbatas pada hari Sabtu, 19 Juli 2025, dipercepat karena harus segera mendatangi ke kediaman beliau mencari tahu kondisi Prof. Sofian Effendi yang mendadak pada sekitar jam 11.36 sms tidak bisa hadir karena alasan badan merasa tidak enak ( di maknai dalam kondisi sakit ), menambah sesek di dada para pimpinan Maklumat di sertai rasa khawatir apa yang sedang terjadi pada Prof. Sofian Effendi.
Apalagi sejak hari Kamis – Jumat ( 17-18/07 ) sudah sulit untuk di kontak, bahkan rencana rapat Maklumat Yogyakarta hari Sabtu, 19/07 hampir dibatalkan. Baru Kamis malam ( malam Jum’at ), sekitar jam 21.00, Prof. Sofian Effendi bisa kontak, beliau minta tolong agar rencana rapat tetap jalan dan beliau akan hadir, walau pada hari itu sekitar jam 11.36 beliau membatalkan hadir, alasan tidak enak badan.
Rasa gelisah mewarnai pimpinan Maklumat Yogyakarta. Rapat dipercepat di tutup jam 16.00. Rencana segera datang kekediaman beliau. Gagal karena Prof. Sofian tidak bisa di hubungi.
Jenderal ( purn ) Tyasno Sudarto dengan naluri mencoba merapat kekediaman beliau, mobil ada di parkiran ndalemnya. Sampai di lokasi pagar tertutup dan rumah sudah di jaga beberapa personil dengan identitas UGM.
Teka teki terus membuat gelisah semua pimpinan Maklumat Jogjakarta. Baru Hari Minggu 20/07 sekitar jam 12.00 bisa kontak dengan Prof. Sofian Effendi.
Cerita di atas saya sampaikan kepada beliau dan beliau menjelaskan bahwa dirinya dalam kondisi aman dan sehat.
Dijelaskan bahwa pengamanan rumahnya atas seijin beliau dan penjagaan untuk sementara tidak menerima tamu adalah datang dari teman teman Guru Besar UGM semata agar beliau bisa istirahat dengan aman dan nyaman.
Desas desus di sandera tidak betul dan penjagaan tidak melibatkan aparat keamanan dari luar UGM.
Info lain yang perlu di ketahui masyarakat luas alasan mencabut surat pernyataannya, masih sama seperti yang telah di release melalui Maklumat Yogjakarta, hari Kamis, tanggal 17/07 dengan judul Dukungan Dan Back Up Untuk Prof. Sofian Effendi*_ antara lain :
– Beliau merasa tidak nyaman hasil wawancara dengan DR. Rismon Hasiholan Sianipar, menjadi info terbuka di masyarakat dan menimbulkan kegaduhan, tidak sesuai dengan keinginannya dan terbuka potensi berimplikasi hukum.
Prof Sofian sama sekali tidak menyalahkan DR. Rismon , karena saat itu mungkin terjadi kesalahan persepsi saja.
– Prof. Sofian Effendi tidak ingin dalam kasus dugaan ijazah palsu Jokowi terkait dengan UGM di adu domba dengan rektor UGM. Dan beliau selalu mengatakan untuk mempertahan UGM sebagai pilar moralitas tidak akan pernah ditinggalkan.
– Benar ada info dari Humas UGM untuk mencabut surat pernyataannya karena ada potensi hukum bisa laporkan ke pihak berwajib.
– Benar bahwa dirinya merasa tidak perlu berurusan dengan pihak berwajib apalagi masih ada potensi hukum di Indonesia belum bisa sepenuhnya menegakkan keadilan
– Benar ada teror dan yang meresahkan bukan teror kepada dirinya tetapi nyasar kepada istri dan putra – putrinya.
– Dirinya akan tetap tegak berjuang untuk kebenaran, kejujuran dan keadilan dan tetap akan ikut menjaga Marwah UGM karena dalam Statuta UMG adalah kampus Pancasila.
Kepada teman teman perjuangan di Maklumat Yogyakarta bersama dirinya agar terus berjuang, agar fokus pada perjuangan di hulunya sesuai misi awalnya _*Negara harus segera kembali kepada Pancasila dan UUD 45 ( asli )*_.
Jangan terlalu jauh terlibat dengan masalah di hilir dengan macam masalah akibat negara telah mengganti UUD 45 dengan UUD 2002. Agar tetap fokus di hulunya.
Demikian sekilas penjelasan singkat mengapa Prof. Sofian Effendi mencabut surat pernyataannya dan rentetan kejadian sesudahnya.
Salam sehat untuk kita semua dan tetap berjuang di jalur kebenaran, kejujuran dan keadilan semoga Tuhan Y.M.E. meridhoi perjuangan kita semua negara segera kembali pada Pancasila dan UUD 45 (asli ). (*).
