25.4 C
Bandung
Saturday, December 6, 2025

Buy now

Pejalan asing

Di sebuah sudut kota yang tak tercatat pada peta mana pun, terdapat bangku kayu tua yang catnya sudah mengelupas seperti sisik-sisik waktu. Bangku itu berdiri di bawah pohon angsana yang langitnya selalu berubah—kadang biru jernih, kadang kelabu seperti hati yang lupa mengingat bahagia. Di sanalah seseorang—entah siapa namanya—sering duduk, membawa segulung kisah yang tak pernah selesai.

Orang-orang menyebutnya pejalan asing. Ia datang tanpa suara, pergi tanpa tanda. Tatapannya seperti sedang mencari sesuatu yang pernah hilang, tapi ia sendiri tidak tahu apa. Barangkali sebuah nama, barangkali sebuah perasaan. Kadang ia menatap bangku itu lama sekali, seakan keberadaan sepotong kayu dapat menjawab pertanyaan yang tak pernah terucapkan.

Suatu sore berwarna emas, ia duduk di sana sambil menatap langit yang hening. Angin bergerak pelan, mengusir debu waktu yang menggantung. Dari kejauhan, terdengar derap sepatu seseorang—perlahan, tetapi pasti. Dan datanglah seorang perempuan muda, membawa secarik kertas kusut. Rambutnya tergerai, menutupi sebagian wajahnya, seperti menutupi cerita yang tak ingin ditampilkan.

“Apakah bangku ini masih menyimpan yang hilang?” tanyanya pelan.

Pejalan asing mengangkat wajah, namun tetap bungkam. Ia hanya mengangguk kecil, seolah lebih percaya pada bahasa tanpa suara.

Perempuan itu duduk di sebelahnya, merapikan lembar kertas di pangkuannya. Tulisan di atasnya tampak kabur, sebagian patah, sebagian hilang. Ia mencoba membaca tetapi tersendat, seperti menatap masa lalu yang ingin dilupakan. Ia menarik napas, lalu membuka cerita.

“Aku pernah menulis tentang seseorang,” katanya. “Namun ketika ingin menyelesaikan kisahnya, kata-kata hilang. Seolah ia tak pernah ada.”

Pejalan asing tersenyum samar. “Apa kau yakin ia pernah ada?”

Perempuan itu terdiam, menatap jemarinya yang gemetar ringan. “Aku tidak tahu. Tapi rasanya nyata. Begitu dekat, sampai aku bisa merasakan namanya berdenyut di dadaku.”

Angin kembali lewat, membawa suara dedaunan seperti bisikan-bisikan tua. Di kota itu, rumor mengatakan bahwa bangku tersebut bisa menampung kenangan siapa saja—yang tak terucap, yang tak selesai. Konon, jika seseorang duduk di sana dan mengizinkan hatinya terbuka, ia akan mendengar jawaban dari hal-hal yang tak bisa dijawab oleh dunia.

Pejalan asing memandang perempuan itu dan berkata pelan, “Mungkin yang kau cari bukan kisah itu. Mungkin kau mencari dirimu yang hilang di dalam cerita.”

Perempuan itu tersenyum getir. “Dan kau? Apa yang kau cari?”

Pejalan asing terdiam. Ia tak tahu. Ia hanya tahu bahwa ia selalu berjalan, mencari sesuatu yang bahkan tak bisa ia beri nama. Namun sore itu, di bawah angsana yang memorinya menyala, ia merasa lebih dekat pada jawaban.

Matahari perlahan meredup, meninggalkan langit ungu yang lembut. Perempuan itu bangkit, merapikan lembar kertasnya. Ia berbisik, “Terima kasih.”

Pejalan asing hanya mengangguk. Ia kembali menatap bangku yang sunyi, seolah di sanalah dunia menyimpan semua yang tak lengkap. Di dalam senyap, ia mendengar sesuatu—bukan kata-kata, melainkan perasaan. Dan ia tahu, meski ia belum menemukan apa yang dicari, ia berada di jalur yang benar. Bangku tua itu tersenyum diam, menyimpan satu lagi cerita yang tak pernah selesai.

AM

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansLike
3,912FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles