BandungEdung.COM — Bandung memang menarik dan seniman maestro Bandung Sudjana Kerton, Bandung merupakan kota yang membesarkannya secara visual dan artistik. Jalan-jalan kota, kampung, pasar, serta aktivitas masyarakat menjadi sumber pengamatan yang terus ia rekam sepanjang perjalanan kreatifnya. Dalam karya-karyanya, Bandung tampil sebagai ruang hidup yang dinamis—tempat berbagai lapisan sosial, aktivitas harian, dan interaksi manusia membentuk denyut kehidupan kota.
Pameran Bandoeng Doeloe: Memories Through the Eyes of Sudjana Kerton menghadirkan Bandung sebagai kota ingatan melalui karya-karya Sudjana Kerton, salah satu perupa penting dalam sejarah seni rupa Indonesia. Pameran ini mengajak publik menelusuri Bandung bukan hanya sebagai ruang geografis, melainkan sebagai ruang pengalaman yang membentuk cara pandang Kerton terhadap manusia, kehidupan sehari-hari, dan perubahan zaman.


Tjandra Kerton putri Sudjana Kerton (atas) dan Sendy Widjaja, yang buka pameran di Bandung/andi
Kerton menangkap Bandung dari dua sisi sekaligus. Di satu sisi, ia memandang kota sebagai lanskap sosial yang luas, dengan struktur ruang, kepadatan, dan jejak sejarahnya. Di sisi lain, ia memberi perhatian pada adegan-adegan kecil yang intim: gestur tubuh, aktivitas sehari-hari, serta wajah-wajah anonim yang menghidupkan ruang kota. Pendekatan ini membuat karya-karyanya terasa dekat dan manusiawi, sekaligus merekam kehidupan urban secara jujur.
Keistimewaan karya Sudjana Kerton terletak pada kemampuannya menghadirkan adegan sebagai ingatan visual. Ia tidak sekadar merepresentasikan apa yang dilihat, melainkan mengolah pengalaman hidup dan memori personalnya. Bandung dalam karya-karyanya hadir sebagai memoriescape—sebuah lanskap ingatan yang tidak terjebak pada nostalgia romantik, tetapi menjadi refleksi atas kehidupan kota yang pernah berlangsung dan terus beresonansi hingga masa kini.







Dalam konteks sejarah seni rupa Indonesia, Sudjana Kerton menempati posisi penting sebagai seniman yang memiliki pandangan melampaui zamannya. Pada masa ketika mobilitas dan akses global masih terbatas, ia telah mengembangkan kesadaran visual yang terbuka dan kosmopolitan. Namun, kesadaran tersebut tidak membuatnya menjauh dari akar lokal. Justru dari keseharian Bandung—kampung, pasar, jalanan, dan tubuh manusia—Kerton membangun bahasa rupa yang bersifat universal.
Sudjana Kerton adalah seorang pelukis asal Indonesia. Sudjana Kerton (22 November 1922 – 6 April 1994), tempat tinggal Sudjana Kerton terletak di Dago Pakar, Kota Bandung. Masa mudanya dilalui pada masa transisi politik negara dari Hindia Belanda menjadi Republik Indonesia yang merdeka. Karena itu, lukisan Kerton menunjukkan era revolusioner Indonesia. Dan kuat akan karya yang penuh perjuangan
Pameran Bandoeng Doeloe disusun sebagai sebuah perjalanan naratif melalui Bandung versi Sudjana Kerton. Lanskap kota dibaca sebagai ruang ingatan, keseharian sebagai denyut kehidupan, dan manusia sebagai subjek utama yang menghidupkan zamannya. Penataan pameran mengajak pengunjung melihat bagaimana adegan-adegan sederhana dapat membentuk gambaran utuh tentang kehidupan kota pada masanya.
Medium yang digunakan Kerton, seperti pen dan tinta, menegaskan spontanitas dalam pengamatan. Garis-garis yang ekspresif menunjukkan kepekaannya dalam menangkap momen-momen singkat kehidupan urban. Sementara itu, teknik grafis menghadirkan struktur, pengulangan, dan disiplin visual yang mencerminkan ritme serta siklus kehidupan kota.
Melalui pameran ini, pengunjung diajak memahami cara kerja Sudjana Kerton sebagai pengamat yang sabar dan jujur. Ia merekam Bandung bukan untuk menghakimi atau mengidealkan, melainkan untuk memahami realitas kehidupan masyarakatnya. Karya-karyanya mengingatkan bahwa sejarah sebuah kota tidak hanya tersimpan dalam peristiwa besar, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari yang berlangsung di ruang-ruang kecil.
Pameran Bandoeng Doeloe: Memories Through the Eyes of Sudjana Kerton akan berlangsung di Plataran Bandung, mulai 16 Desember – 4 Januari 2026. Yuk lihat pameran ini terbuka untuk umum dan diharapkan dapat menjadi ruang refleksi bagi pengunjung untuk melihat kembali Bandung sebagai kota ingatan—sebuah ruang yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan pengalaman manusia yang bersifat universal. Alus Pisan …EDUN (UNANG CD)
