Sunaryo Soetono Raih Satya Budaya Nalendra: Kesunyian, dan Etika Ketekunan
BandungEdun.COM — Anugerah Kebudayaan indonesia (AKI) 2025 luar biasa. Sejumlah seniman Budayawan didapuk dimalam anugerah yang digelar di Ciputra Artpreneur pada 17 Desember 2025 Jakarta malam itu. Khimat dan penuh makna bermartabat.
Memang di zaman ketika segala sesuatu diukur oleh kecepatan, visibilitas, dan intensitas suara, seniman ternama Indonesia kehadiran Sunaryo yang lebih dikenal bernama asli Sunaryo Soetono jebolan FSRD ITB Bandung.
Sunaryo adalah seorang seniman kontemporer terkemuka Indonesia yang dikenal luas melalui karya lukis dan instalasinya, sekaligus sebagai pendiri dan pemilik Selasar Sunaryo Art Space di Bandung. Meskipun beliau adalah seniman multidisiplin mulai melukis dan membuat karya rupa lainnya yang produktif, karya patungnya juga terkenal, terutama yang bersifat monumental. Patung Jenderal Sudirman di Jalan Sudirman Jakarta Pusat. Patung Soekarno-Hatta di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Bandung Lautan Api dan Monumen Jawa Barat di Bandung. Karya Instalasi: Salah satu karyanya yang terkenal berupa instalasi skala besar adalah Wot Batu di Bandung, sebuah konfigurasi bebatuan yang menghadirkan pengalaman spiritual.
Sunaryo Lahir di Banyumas pada tahun 1943, Sunaryo memulai karier seni lukisnya di era 1970-an dan kemudian menjadi dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB). Malam itu Bersama Jaya Suprana, Ary Ginanjar, Peter F. Gontha, Elvy Sukaesih, I Nyoman Wenten, dan Anhar Gonggong Ia di dapuk Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 oleh menteri Kebudayaan Fadli Dzon yang memberikan langsung lencana Anugerahan Satya Budaya Nalendra.
Merek para peraih Penganugerahan Satya Budaya Nalendra/aen
Sunaryo dalam perjalanannya sangat kuat, tanpa gemuruh, sunyi yang ia dijalani. Ia juga tidak datang membawa gemuruh memang, melainkan keheningan. Namun justru dari keheningan itulah getaran paling dalam muncul. Maka ketika negara menganugerahkan Anugerah Kebudayaan kepada Sunaryo, yang sesungguhnya dirayakan bukan hanya pencapaian seorang perupa, melainkan sebuah sikap hidup—sikap yang menempatkan seni sebagai laku batin, bukan sekadar peristiwa visual.
Sunaryo adalah seniman yang bekerja dengan kesadaran akan waktu yang panjang. Karyanya tidak lahir dari dorongan untuk segera selesai atau cepat direspons, melainkan dari perenungan yang sabar. Ia memahami bahwa seni, seperti alam, memiliki ritmenya sendiri. Batu perlu waktu untuk menjadi gunung; cahaya perlu ruang untuk menjadi makna. Dalam karya-karyanya, Sunaryo menghadirkan relasi yang intim antara manusia dan semesta—bukan melalui representasi literal, melainkan melalui pengalaman ruang, tekstur, dan hening.

/dokumentasi pribadi
Di sinilah letak sublimitas karya Sunaryo. Sublim bukan dalam arti kemegahan yang menaklukkan, melainkan dalam pengertian yang lebih halus: pengalaman estetik yang membuat manusia menyadari keterbatasannya, sekaligus keterhubungannya dengan sesuatu yang lebih besar. Karya Sunaryo tidak memerintah penonton untuk memahami, tetapi mengundang untuk merasakan. Ia membuka ruang di mana makna tidak dipaksakan, melainkan tumbuh perlahan di dalam diri.
Dalam sejarah seni rupa Indonesia, Sunaryo menempati posisi yang unik. Ia tidak sepenuhnya berada di arus utama, namun juga tidak di pinggiran. Ia memilih jarak—jarak yang etis—dari hiruk-pikuk pasar seni dan euforia sensasionalisme. Jarak ini bukan bentuk pengasingan, melainkan strategi kesadaran. Dari jarak tersebut, Sunaryo mampu menjaga integritas artistik, memastikan bahwa setiap karya lahir dari kebutuhan internal, bukan tekanan eksternal. Dan sangat sublim.
Kesetiaan Sunaryo pada proses adalah pelajaran penting bagi kebudayaan kita hari ini. Dalam dunia yang semakin mengagungkan hasil instan, ia menunjukkan bahwa ketekunan adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi sekaligus paling kuat. Ia tidak tergoda untuk mengulang diri demi pengakuan, tidak pula terjebak dalam estetika yang mudah dicerna. Sebaliknya, ia terus menggali, mempertanyakan, dan menyederhanakan—hingga yang tersisa hanyalah esensi.
Penghargaan kebudayaan yang diterimanya terasa seperti pengakuan atas perjalanan panjang tersebut. Bukan hanya atas karya-karya yang telah dihasilkan, tetapi atas konsistensi etis dalam menjalani peran sebagai seniman. Sunaryo membuktikan bahwa seni tidak harus selalu berbicara lantang untuk menjadi relevan. Justru dalam kesunyian yang terjaga, seni menemukan daya tahannya.
Lebih jauh, kontribusi Sunaryo melampaui karya individual. Ia telah menciptakan dan merawat ruang—baik fisik maupun intelektual—bagi seni untuk tumbuh. Ruang-ruang ini bukan sekadar tempat pamer, melainkan medan dialog antara seni, alam, dan masyarakat. Dalam konteks ini, Sunaryo tidak hanya bertindak sebagai perupa, tetapi sebagai pemikir kebudayaan yang memahami pentingnya ekosistem. Ia sadar bahwa seni tidak hidup dalam kevakuman; ia membutuhkan lingkungan yang memungkinkan refleksi dan keberlanjutan.
Dalam pandangan Sunaryo, seni adalah cara manusia berdamai dengan keberadaan. Ia tidak menawarkan jawaban, melainkan pertanyaan yang terus hidup. Pertanyaan tentang relasi manusia dengan alam, tentang spiritualitas yang tidak dogmatis, tentang kehadiran yang penuh kesadaran. Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi semakin relevan di tengah krisis ekologis dan kegelisahan eksistensial zaman kini.
Anugerah Kebudayaan yang disematkan kepadanya karenanya tidak dapat dibaca sebagai penutup perjalanan. Justru sebaliknya, ia adalah penegasan bahwa jalan sunyi yang ditempuh Sunaryo memiliki resonansi sosial dan kultural yang luas. Negara, melalui penghargaan ini, seolah mengakui bahwa kebudayaan tidak hanya dibangun oleh yang paling terdengar, tetapi juga oleh mereka yang setia menjaga kedalaman.
Sunaryo mengajarkan bahwa seni adalah bentuk perhatian yang paling serius. Perhatian pada material, pada ruang, pada waktu, dan pada pengalaman manusia. Dalam setiap karyanya, terdapat etika memperlambat—sebuah ajakan untuk tidak tergesa-gesa dalam memahami dunia. Di hadapan karya Sunaryo, kita dipaksa untuk berhenti sejenak, mengatur napas, dan hadir sepenuhnya.
Pada akhirnya, yang membuat Sunaryo layak menerima Anugerah Kebudayaan bukan semata reputasi atau usia pengabdian, melainkan kualitas kehadiran. Ia hadir secara utuh dalam apa yang ia kerjakan, tanpa kompromi yang melemahkan makna. Ia menunjukkan bahwa kebudayaan bukan hanya soal warisan, tetapi tentang keberanian untuk menjaga nilai di tengah perubahan.
Seperti karyanya, Sunaryo tidak pernah selesai. Ia terus bergerak dalam diam, bekerja dalam kesunyian, dan dari kesunyian itulah kebudayaan menemukan gema yang paling jujur. Anugerah ini hanyalah penanda—bahwa di antara kebisingan zaman, masih ada suara pelan yang setia mengingatkan kita pada kedalaman. Dan suara itu, meski lirih, akan selalu bertahan lebih lama. Selamat.
(Aendra Medita, jurnalis dan pemerhati seni budaya)
