MUHASABAH DIRI MENJELANG PERGANTIAN TAHUN 2025–2026
Pada setiap pergantian tahun, muncul penanggalan baru, bulan baru, dan tahun yang baru. Tak lama lagi tahun 2025 akan berakhir, berganti menuju tahun 2026. Sebagian manusia mulai melirik waktu dan usia yang Allah anugerahkan untuk beraktivitas.
Kian hari usia kita terus bertambah: 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun, bahkan ada yang melebihi usia Rasulullah ﷺ yang wafat pada usia 62 tahun—hingga 70, 80, bahkan 100 tahun lebih. Selama itu pula, begitu banyak usia yang kita habiskan untuk berbagai aktivitas, baik ritual maupun sosial.
Memang sudah menjadi keharusan bagi manusia untuk berikhtiar selama masih bernapas: menafkahi keluarga, tolong-menolong dalam kebaikan, dan menjalani kehidupan sesuai tuntunan Al-Qur’an.
Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah aku pernah benar-benar bersyukur atas bertambahnya usia? Apakah aku bersyukur atas kesehatan yang dianugerahkan, sehingga aku mampu bekerja, menafkahi keluarga, bersenda gurau bersama keluarga, sahabat, dan kerabat terdekat?
Begitu banyak nikmat Allah yang tak terhitung, namun manusia sering lalai dalam bersyukur. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Bersyukurlah kalian, niscaya Aku akan menambah nikmat-Ku kepada kalian. Namun jika kalian kufur, sungguh azab-Ku sangat pedih.”
Di sinilah pentingnya muhasabah, evaluasi dan introspeksi diri. Jika ingin benar dalam bermuhasabah, lepaskan sejenak kecenderungan duniawi. Diamlah (tawaqquf) sejenak. Singkirkan persoalan dunia dari hati dan pikiran, lalu tanyakan pada diri yang paling dalam:
“Sudah benarkah cara hidupku hingga hari ini?”
Bukan dengan kembang api, bukan dengan petasan, bukan pula dengan pesta dan euforia. Tetapi dengan jiwa, hati, dan qalbu yang Allah anugerahkan kepada kita.
Cobalah berhenti sejenak, heningkan hati dan pikiran, lalu bertanyalah pada jiwa (istafti qalbaka):
•Ke mana arah hidup ini?
•Sudah benarkah puluhan tahun aktivitas dan ibadah yang kita lakukan?
•Jika hari ini kita wafat, sudah cukupkah bekal amal untuk menghadap Allah?
Marilah kita rileks sejenak, tenangkan hati, singkirkan beban dunia yang menghimpit, dan hadapkan seluruh jiwa hanya kepada Dia yang telah banyak memberi nikmat.
Hidup ini bukan tentang seberapa banyak pengikut, pengagum, ilmu, atau kepintaran. Tetapi tentang seberapa besar hidup ini bermanfaat bagi orang lain.
Kunci dari seluruh persoalan hidup adalah kesadaran: kesadaran tentang siapa diri kita dan siapa Tuhan kita. Kita tidak memiliki kekuatan apa pun. Kepintaran, kecerdasan, dan ilmu hanyalah titipan Allah untuk kemaslahatan umat. Namun sering kali manusia mengklaim semua itu sebagai hasil usahanya sendiri—dan inilah awal kejatuhan menuju kehinaan.
Sadarlah:
•Kita sehat karena Allah memberi kesehatan.
•Kita cukup rezeki karena Allah yang mencukupkan.
•Kita mampu berbuat karena Allah menganugerahkan daya dan kemampuan.
Kemampuan manusia dibatasi oleh kalimat:
Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.
Jika kesadaran ini tumbuh, maka ego akan mengecil, dan yang tersisa adalah kesadaran akan kekuasaan Allah serta kelemahan manusia.
Jika amal baik kita di tahun sebelumnya masih sedikit, semoga Allah menambahkannya. Jika sudah banyak, semoga Allah mengaruniakan istiqamah. Semoga amal baik hari ini menjadi resonansi kebaikan di tahun 2026.
Momentum pergantian tahun adalah waktu yang tepat untuk:
•Bersyukur
•Memohon ampunan
•Menyusun resolusi spiritual
Agar kita menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya, demi kebahagiaan dan keberkahan hidup di masa depan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang pandai bersyukur, mendapatkan rida-Nya, dan dimasukkan ke dalam golongan umat Nabi Muhammad ﷺ.
Dan tentunya kita semua berharap, semoga di tahun 2026 nanti Alloh menurunkan pemimpin-pemimpin yang beriman dan bertaqwa, membawa bangsa ini keluar dari segala kesulitan karna ulah tangan-tangan para pemimpin dan pejabat yang fasik & munafik. Sehingga bangsa ini tumbuh sebagai bangsa yang
(Baldatun thoyyibatun warobbun ghofur) Aamiin ya Robbal alamiin.
(Iskandar D. Ismime / JBK)
Keutamaan Muhasabah
•Menghitung amal sebelum dihisab di akhirat, sehingga meringankan perhitungan kelak
•Membuka pintu ampunan dan ketenangan jiwa
•Menjadi cermin diri agar tahun berikutnya lebih baik dari tahun sebelumnya
Landasan Utama Muhasabah
•“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”
(QS. Al-Hasyr: 18)
•“Tafakur sesaat lebih utama daripada shalat seribu rakaat.” (Hadis)
•“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
(Umar bin Khattab RA)