Dulu, namanya selalu kusebut dalam doa. Kini, namanya kusebut dalam laporan polisi. Ngeriii. Tak ada yang lebih ironis dari kenyataan itu.
Aku masih ingat pertama kali bertemu Raka. Di sebuah diskusi sastra kecil di kota kami, ia duduk di barisan paling depan, mencatat setiap kata yang keluar dari mulutku seolah itu sabda. Matanya berbinar—mata seorang pengagum sejati. Setelah acara selesai, ia menghampiriku dengan tangan gemetar, meminta tanda tangan, memuji tulisanku, dan mengatakan bahwa cerpen-cerpenku menyelamatkannya dari malam-malam gelap.
“Aku ingin seperti kamu,” katanya waktu itu.
Aku tersenyum, tak tahu bahwa kalimat itu akan menjadi awal dari segalanya.
Raka selalu ada. Di setiap acara, setiap unggahan, setiap tulisan baru. Ia mengirim pesan panjang, menganalisis karyaku lebih dalam daripada siapa pun. Awalnya aku tersanjung. Siapa yang tidak ingin dipuja? Ia memanggilku “guru”, “panutan”, bahkan “cahaya”. Aku membalas seperlunya, menjaga jarak, tapi ia tak pernah mengerti batas.
Ketika aku tak membalas pesannya, ia mengirim sepuluh pesan lagi.
Ketika aku mengunggah foto dengan rekan penulis lain, ia bertanya dengan nada curiga.
Ketika aku menolak bertemu empat mata, ia menulis, “Kamu berubah.”
Aku tidak berubah. Aku hanya mulai takut.
Pujian perlahan berubah menjadi tuntutan. Raka merasa berhak atas waktuku, pikiranku, bahkan emosiku. Ia ingin aku membaca semua tulisannya, mengedit, mempromosikan, dan membela namanya di mana pun. Ketika aku tak bisa, wajahnya yang dulu bersinar berubah gelap.
“Kamu sombong,” tulisnya suatu malam.
“Kamu lupa siapa yang selalu mendukungmu dari awal.”
Aku mencoba menjelaskan. Dengan sopan. Dengan hati-hati. Namun setiap penjelasan terdengar seperti pengkhianatan di telinganya.
Lalu serangan itu dimulai.
Ia menulis unggahan panjang di media sosial, menyebutku manipulatif, pemanfaat penggemar, pencuri ide. Ia mengatakan aku membangun reputasi di atas orang-orang kecil seperti dirinya. Namaku diseret, ditafsirkan, dipelintir. Orang-orang mulai bertanya, mulai ragu, mulai menjauh.
Aku terkejut, marah, dan hancur.
Aku mencoba menghubunginya. Tak ada jawaban. Yang ada hanya unggahan baru, komentar pedas, dan pesan anonim yang masuk ke kotakku—kata-kata yang jelas berasal dari luka dan dendamnya.
Puncaknya terjadi ketika suatu pagi, dua polisi datang ke rumahku.
Aku dilaporkan.
Raka menuduhku melakukan pelecehan psikologis, eksploitasi intelektual, dan ancaman terselubung. Tuduhan-tuduhan yang terdengar absurd, tapi tertulis rapi. Ada tangkapan layar, potongan pesan, kalimat yang dipilih dengan cermat—tanpa konteks, tanpa utuh.
Aku duduk di ruang pemeriksaan dengan tangan dingin. Di kepalaku hanya satu pertanyaan berulang: Bagaimana seorang pengagum bisa berubah menjadi penyerang sekejam ini?
Hari-hari setelahnya adalah neraka yang sunyi. Karierku terhenti. Undangan dibatalkan. Namaku dicari bukan untuk dibaca, tapi untuk diadili. Aku belajar satu hal pahit: kebenaran tidak selalu lebih cepat dari fitnah.
Namun waktu, seperti biasa, bekerja diam-diam.
Penyelidikan berjalan. Bukti-bukti utuh muncul. Pesan lengkap, saksi, kronologi. Perlahan, narasi yang dibangun Raka runtuh. Laporannya dihentikan. Namaku dibersihkan—setidaknya secara hukum.
Tapi tidak secara batin.
Aku tak pernah benar-benar menang. Karena di suatu sudut kota, ada seseorang yang dulu memujaku dengan tulus, kini membenciku dengan sepenuh hati. Dan aku tahu, kebenciannya lahir bukan karena aku jahat—melainkan karena aku tak memenuhi bayangan yang ia ciptakan sendiri.
Beberapa bulan kemudian, aku menerima satu pesan darinya.
Singkat.
Tanpa salam.
“Aku kecewa. Tapi mungkin aku lebih kecewa pada diriku sendiri.”
Aku membaca pesan itu lama. Tak ada amarah yang tersisa, hanya lelah.
Aku tidak membalas.
Kini, setiap kali seseorang memujaku berlebihan, aku belajar menurunkan nada. Setiap kali ada yang menempatkanku terlalu tinggi, aku melangkah mundur. Karena aku tahu: dari semua jenis luka, yang paling berbahaya adalah harapan yang tak pernah disepakati.
Dulu dia pengagum.
Kini dia penyerang.
Dan di antara keduanya, ada kekecewaan yang tak pernah menemukan tempat pulang. “Ketika Kekaguman Berubah”
kisah: diceritakan AM
