Cari Uang di Rumah Mata Air
Langit belum sepenuhnya gelap ketika mobil-mobil itu berhenti satu per satu di depan Rumah Mata Air. Senja menggantung seperti napas yang tertahan—tidak siang, tidak malam. Di jam inilah orang biasanya membuat keputusan yang akan mereka sesali atau pertahankan seumur hidup.
Rumah itu tidak besar. Dindingnya kayu tua, catnya sudah lama pudar. Namun ada sesuatu yang membuat siapa pun yang datang menurunkan suara, seolah rumah itu punya telinga.
Di ruang tengah, Arka duduk sendirian. Tangannya terlipat di atas lutut. Di depannya, sebuah meja kayu panjang. Di atas meja itu, tersusun rapi map-map cokelat, kotak arsip, dan beberapa perangkat penyimpanan data. Tidak ada yang terkunci.
Ia mendengar langkah kaki.
“Silakan masuk,” ucapnya tanpa menoleh.
Pintu terbuka. Tiga orang masuk hampir bersamaan.
Yang pertama, lelaki tinggi dengan jas mahal—Rana. Dulu ia dikenal sebagai orator. Kata-katanya tajam, suaranya keras, dan pengikutnya setia. Yang kedua, perempuan berambut pendek, Mira, mantan akademisi yang kini lebih sering tampil di kanal-kanal diskusi daring. Yang ketiga, lelaki kurus berkacamata, Dimas, ahli data yang dulu paling yakin bahwa ia berada di pihak kebenaran.
Tak satu pun dari mereka duduk.
“Terima kasih sudah datang,” Arka mengulang, kini menatap mereka satu per satu.
Rana berdehem. “Kami… tidak yakin undangan ini ide yang baik.”
“Undangan ini bukan untuk menghakimi,” jawab Arka tenang. “Kalau itu tujuannya, kalian tidak akan duduk di sini.”
Mira menyilangkan tangan. “Lalu untuk apa?”
Arka tersenyum tipis. “Untuk menutup sesuatu yang sudah terlalu lama dibiarkan terbuka.”
Sunyi lagi. Jam dinding berdetak pelan.
Dimas akhirnya memberanikan diri duduk. “Kami tidak datang untuk minta maaf.”
“Bagus,” kata Arka. “Aku juga tidak memanggil kalian untuk itu.”
Rana mendengus kecil. “Kau selalu pandai merendahkan orang tanpa suara.”
Arka mengangguk. “Mungkin. Atau mungkin kalian hanya terbiasa berteriak.”
Mira melangkah mendekat ke meja. “Apa semua ini?” Ia menunjuk tumpukan arsip.
“Cerita,” jawab Arka singkat.
“Cerita versi siapa?” potong Rana cepat.
“Versi waktu.”
Dimas tertawa kering. “Waktu bisa dimanipulasi. Data bisa dipelintir.”
Arka membuka salah satu map. Ia mengeluarkan selembar dokumen tua, lalu meletakkannya di tengah meja.
“Kalau satu bisa dipelintir,” katanya, “bagaimana dengan tujuh ratus dua puluh tiga?”
Mira membeku. “Apa maksudmu?”
Arka membuka map kedua. Ketiga. Keempat. Ia tidak tergesa. Seolah setiap bukti adalah langkah yang sudah ia hafal.
“Surat asli. Arsip lembaga. Rekaman percakapan. Log digital. Saksi. Ahli. Dan jejak yang kalian kira sudah terhapus.”
Dimas berdiri lagi. “Ini intimidasi.”
Arka menatapnya lurus. “Tidak. Intimidasi itu ketika seseorang tidak punya apa-apa selain ancaman. Aku punya data.”
Rana memukul meja. “Kau pikir kami tidak punya juga?”
“Punya,” jawab Arka cepat. “Tapi kalian memilih potongan yang cocok dengan keyakinan kalian. Kalian tidak mencari kebenaran. Kalian mencari pembenaran.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan.
Mira menunduk. “Kami hanya ingin transparansi.”
“Tidak,” Arka menggeleng. “Kalian ingin keraguan. Karena dari keraguan, kekuasaan tumbuh.”
Di luar, suara azan mulai terdengar samar.
Rana menghela napas panjang. “Kau tahu apa yang kau lakukan pada kami?”
“Aku tahu,” jawab Arka. “Aku membiarkan hukum bekerja.”
Dimas mengepalkan tangan. “Setelah semua ini, kau masih bisa bilang tidak membenci kami?”
Arka terdiam sejenak. Ia berdiri, berjalan ke jendela. Cahaya senja memantul di wajahnya.
“Aku belajar satu hal,” katanya pelan. “Kebencian itu melelahkan. Dan aku sudah terlalu lama bekerja.”
Mira menatapnya dengan mata berkaca. “Lalu apa yang kau inginkan?”
Arka berbalik. “Aku ingin kalian berhenti bersembunyi di balik kata ‘niat baik’.”
Rana tertawa pahit. “Dan kalau kami minta maaf?”
Arka menggeleng. “Itu urusan kalian dengan hati kalian. Bukan denganku.”
“Jadi tidak ada jalan keluar?” tanya Dimas.
“Selalu ada,” kata Arka. “Tapi bukan jalan pintas.”
Jam berdetak. Azan selesai.
Mira menarik kursi dan duduk perlahan. “Aku ingin melihat semuanya.”
Arka mendorong salah satu kotak ke arahnya. “Silakan.”
Mereka membuka, membaca, menonton, mendengarkan. Wajah-wajah yang tadinya penuh keyakinan berubah menjadi rapuh. Tidak ada air mata yang langsung jatuh. Yang ada hanya jeda panjang—jenis jeda yang mengubah seseorang.
Rana mengusap wajahnya. “Kami membangun menara ini… dari kata-kata.”
“Dan kata-kata,” jawab Arka, “selalu punya alamat.”
Dimas berbisik, “Kami pikir kebenaran itu lentur.”
“Tidak,” Arka menjawab. “Ia hanya sabar.”
Malam turun sepenuhnya. Lampu rumah menyala.
Mira berdiri lebih dulu. “Kami akan pergi.”
Arka mengangguk. “Hati-hati di jalan.”
Rana berhenti di ambang pintu. “Arka…”
“Ya?”
“Kalau kau di posisi kami?”
Arka berpikir sebentar. “Aku akan berhenti lebih cepat.”
Pintu tertutup.
Rumah Mata Air kembali sunyi. Arka duduk lagi, menatap meja yang kini berantakan. Ia tidak merapikannya. Tidak perlu. Besok, semuanya akan berjalan sendiri.
Di luar, malam tidak berisik. Ia tahu: kebenaran tidak perlu penjaga.
Ia hanya perlu waktu.
