Absurditas, Gimmick, dan Ketidaknyamanan yang Kita Salahpahami
ADA satu kebiasaan lama dalam menilai karya: ketika kita tidak nyaman, kita tergoda untuk menyebutnya dangkal. Ketika kita terganggu, kita mencari jalan pintas: ini hanya gimmick.
Padahal, tidak semua yang mengganggu itu kosong.
Kadang, justru di sanalah sesuatu bekerja.
Perdebatan tentang Mens Rea—apakah ia absurdis atau sekadar sensasi—sebenarnya bukan perdebatan tentang komedi. Ia adalah perdebatan tentang cara kita membaca kritik, tentang batas toleransi publik, dan tentang ketakutan kita pada bahasa yang tidak jinak.
Pertanyaannya bukan semata: apa maksudnya?
Melainkan: mengapa kita ingin segera menutupnya?
Absurditas Tidak Pernah Dimaksudkan untuk Nyaman
Absurdis sering disalahpahami sebagai kekacauan. Sebagai permainan logika yang asal dibengkokkan. Sebagai kebebasan tanpa tanggung jawab.
Padahal, dalam tradisinya, absurdis justru lahir dari keseriusan.
Ia muncul ketika bahasa normal gagal menjelaskan realitas yang tidak rasional. Ketika sistem terlihat rapi, tetapi hasilnya timpang. Ketika aturan tampak suci, tetapi dampaknya melukai.
Di titik itulah absurdis bekerja: bukan untuk menjelaskan,
melainkan untuk memperlihatkan retak. Ia tidak menawarkan jawaban.
Ia menawarkan cermin yang membuat kita tidak yakin dengan wajah sendiri.
Ketika Humor Menolak Menjadi Ramah
Sebagian besar humor publik dirancang untuk aman. Ia mengolok tanpa menggugat.
Ia mengkritik tanpa menyentuh fondasi. Ia lucu, lalu selesai. dan te[uk tangan setelah itu hilang entah kemana?
Namun ada jenis humor lain yang menolak fungsi itu. Humor yang tidak ingin menjadi jeda,
melainkan gangguan. Humor semacam ini tidak memberi jarak aman antara penonton dan materi.
Ia tidak berkata, “tenang, ini cuma bercanda.”
Ia justru bertanya pelan:
kalau ini hanya bercanda, mengapa kita gelisah?
Di situlah banyak orang mulai menyebutnya gimmick.
Bukan karena ia kosong,
melainkan karena ia tidak memberi kepastian makna.
Gimmick dan Absurditas: Perbedaan yang Sering Kabur
Gimmick bekerja dengan cara sederhana: ia menempel, mencolok, dan bisa dilepas tanpa mengubah isi. Ketika gimmick hilang, pesan tetap utuh.
Absurditas bekerja sebaliknya.
Ia bukan lapisan luar, melainkan struktur dalam.
Jika absurditasnya dihilangkan, yang tersisa bukan pesan yang sama—
melainkan pesan yang mati.
Dalam konteks ini, pertanyaan pentingnya bukan:
apakah ini provokatif?
melainkan: apakah provokasinya punya fungsi?
Ketika absurditas digunakan untuk:
-
menunjukkan kontradiksi kekuasaan,
-
menelanjangi logika yang kita anggap wajar,
-
atau memaksa audiens menghadapi ketidaknyamanan sendiri,
maka ia bukan gimmick. Ia adalah metode.
Ketidaknyamanan sebagai Reaksi, Bukan Bukti Kekosongan
Ada kecenderungan untuk menyamakan tidak paham dengan tidak bermakna.
Padahal, sering kali yang terjadi hanyalah: kita belum terbiasa dengan bahasanya.
Karya yang langsung dipahami jarang menimbulkan konflik.
Karya yang langsung disukai jarang menggugat.
Sebaliknya, karya yang ambigu: mengundang tafsir, memicu salah baca, dan sering dianggap berbahaya. Bukan karena ia merusak,
tetapi karena ia tidak bisa segera dikendalikan.
Ketika publik bereaksi keras, sering kali itu bukan tanda bahwa karya tersebut kosong.
Melainkan tanda bahwa ia menyentuh wilayah yang belum kita sepakati bersama.
Absurditas dan Risiko Disalahpahami
Absurdis selalu bekerja dengan risiko. Ia tidak memberi penjelasan moral di akhir.
Ia tidak menutup dengan kesimpulan rapi.
Karena itu, ia mudah dibaca secara literal.
Dan ketika dibaca literal, absurditas memang tampak seperti niat buruk.
Namun kesalahan membaca bukan bukti kesalahan mencipta.
Ia hanya menunjukkan bahwa jarak antara karya dan publik belum disiapkan.
Di ruang digital—yang menyukai potongan pendek, konteks terlepas, dan reaksi cepat—
karya berlapis hampir selalu kalah oleh pembacaan paling dangkal.
Di situlah absurditas sering dikorbankan atas nama ketertiban.
Dari Hiburan ke Simbol
Menariknya, begitu sebuah karya diseret ke ruang hukum atau moral kolektif,
ia berhenti menjadi milik penciptanya. Ia menjadi simbol.
Pada titik ini, pertanyaan “apakah ini lucu?” menjadi tidak relevan.
Yang diperdebatkan bukan lagi estetikanya,
melainkan hak untuk mengatakannya.
Ironisnya, justru di sinilah absurditasnya terkonfirmasi:
karya yang menertawakan ketegangan sosial
berakhir memproduksi ketegangan sosial yang nyata.
Bukan karena ia berlebihan, melainkan karena reaksi terhadapnya tidak proporsional.
Mengapa Kita Takut pada Bahasa yang Tidak Jinak
Masyarakat cenderung menyukai kritik yang: jelas arahnya, sopan nadanya, dan bisa ditanggapi dengan pernyataan resmi. Kadang juga ada yang bicara kenapa suka mengkrtik tapi tak beri solusi…so…what
Absurditas menolak semua itu. Ia tidak bisa dipatahkan dengan klarifikasi.
Ia tidak bisa ditenangkan dengan imbauan.
Karena ia tidak sedang berdebat.
Ia sedang menunjukkan absurditas itu sendiri.
Maka jalan pintasnya adalah menyebutnya gimmick.
Label ini bekerja seperti penutup telinga:
praktis, cepat, dan menenangkan.
Sebelum menuju kesimpulan saya ingin kutip editorial menarik dari jakartasatu, silakan klik:
https://jakartasatu.com/2026/01/09/editorial-jakartasatu-teater-komedi-di-indonesia-antara-kesadaran-dan-penghiburan-kosong/
Jika sudah baca maka semoga makin paham dan kini kesimpulan yang Tidak Mengikat
Apakah Mens Rea absurdis?
Ya, dalam arti ia menggunakan ketidakmasukakalan sebagai bahasa kritik.
Apakah ia gimmick?
Hanya jika kita menuntut semua kritik berbicara dengan cara yang sama.
Masalahnya bukan pada karyanya semata,
melainkan pada kesiapan kita menerima bentuk kritik yang tidak familiar.
Absurditas selalu tampak berlebihan di masyarakat yang terbiasa dengan kepastian.
Dan humor yang tidak ingin sekadar menghibur
akan selalu dianggap melampaui batas.
Namun sejarah seni menunjukkan satu hal sederhana:
yang hari ini disebut gimmick,
sering kali hanyalah bahasa yang datang terlalu cepat.
Dan ketidaknyamanan kita
mungkin bukan tanda bahwa karya itu kosong,
melainkan bahwa ia bekerja— dengan cara yang tidak kita kuasai sepenuhnya.
Tabik.
Aendra Medita, penulis seni dan pernah kuliah jurusan Teater
