25.6 C
Bandung
Tuesday, January 13, 2026

Buy now

Si Brehoh Muncul Lagi

–untuk siAnu
TAK ada yang benar-benar tahu kapan nama Brehoh mulai dipanggil dengan nada setengah hormat, setengah curiga. Di kampung itu, nama biasanya lahir dari peristiwa: dari kelakuan, dari mulut ke mulut, dari bisik yang tak pernah tercatat. Brehoh bukan nama lahirnya. Tapi lama-lama, orang lupa siapa nama aslinya, karena “Brehoh” terasa lebih pas—lebih mewakili.
Ia anak yang wajahnya selalu bersih, tutur katanya halus, dan matanya seperti selalu mencari persetujuan. Jika berbicara di depan orang banyak, suaranya bergetar oleh api semangat, seolah setiap kata keluar dari dada yang penuh kejujuran. Tangannya mengepal, dadanya dibusungkan, dan alisnya naik turun seperti gelombang emosi yang dilatih.
“Ini bukan soal saya,” katanya suatu sore di balai bambu, “ini soal keadilan!”
Orang-orang mengangguk. Sebagian bertepuk tangan. Sebagian lagi saling pandang, ragu, tapi belum cukup alasan untuk menolak percaya.
Brehoh pandai menjaga silat lidah. Ia tahu kapan harus keras, kapan harus lembut. Ia bisa menyebut penderitaan orang lain dengan detail yang membuat pendengarnya merasa bersalah jika tak berpihak. Ia hafal istilah hukum, walau sering keliru konteks. Tapi itu tak masalah. Yang penting terdengar pintar dan berani.
Ia sering berkata, “Saya tak butuh apa-apa. Demi kebenaran saja.”
Dan justru di situlah orang mulai terjebak.

Api yang Selalu Menyala pada Brehoh hidup dari kisah. Bukan dari sawah, bukan dari kebun, apalagi dari kerja tetap. Ia hidup dari cerita yang ia bakar sendiri. Jika ada konflik, ia datang membawa bensin. Jika ada sengketa, ia muncul dengan korek api.

Kasus pertama yang membuat namanya melambung adalah perkara tanah warisan di ujung kampung. Tanah itu luas, diwariskan turun-temurun, tapi dokumennya kusam dan saling bertabrakan. Para ahli waris bingung, takut, dan merasa kecil di hadapan pengembang yang datang membawa map tebal dan senyum dingin.
Brehoh datang seperti pahlawan kesiangan.
“Kalian jangan takut,” katanya lantang. “Tanah ini hak kalian. Saya akan bela sampai mati.”
Ia mengantar para ahli waris ke kantor ini dan itu. Ia bicara di depan mereka, kadang sambil mengutip pasal, kadang sambil menyebut nama Tuhan. Ia menangis saat seorang nenek ahli waris terisak. Ia memeluk anak-anak yang tak mengerti apa-apa.
Orang kampung mulai percaya: Brehoh adalah suara mereka.
Namun, saat pengembang mulai bicara soal “uang pengamanan”, “biaya mediasi”, dan “kompensasi diam-diam”, Brehoh mendadak berubah nada.
“Ini rumit,” katanya. “Kita harus realistis.”
Tak lama kemudian, ia jarang terlihat bersama para ahli waris. Ia sering pergi malam-malam, katanya dialog. Katanya lobi. Katanya demi strategi. Tapi yang kembali hanyalah kabar: tanah itu lepas, ahli waris dapat sisa yang tak seberapa, dan Brehoh… entah bagaimana, motornya baru.
Saat ditanya, ia hanya tersenyum.
“Kalian tak tahu apa yang saya korbankan,” katanya.
Dan sebagian orang memilih diam, karena kecewa tak selalu punya suara.

Jilat yang Halus Brehoh bukan pembohong kasar. Ia pembohong yang sopan. Ia tidak menolak, tapi juga tak menjawab. Ia tidak mengingkari, hanya memelintir. Ia murip Sicapin drama Moliere. Jika dituduh, ia balik bertanya, membuat penanya merasa bersalah.

“Kamu meragukan niat baik saya?” katanya suatu malam. “Setelah semua yang saya lakukan?”
Nada suaranya menusuk, bukan karena keras, tapi karena seolah terluka.
Ia pandai menjilat. Jika berhadapan dengan orang kuat, ia memuji berlebihan. Jika di depan orang lemah, ia bicara tentang perlawanan. Ia bisa duduk bersama musuh hari ini, lalu besok pagi berdiri di depan massa sambil mengutuk musuh yang sama.
Anehnya, ia selalu punya alasan.
“Itu strategi,” katanya.
“Itu pendekatan,” katanya lagi.
“Itu demi kepentingan bersama,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Dan orang-orang mulai belajar satu hal: Brehoh tak pernah benar-benar berdiri. Ia selalu sedikit condong ke arah yang paling menguntungkan.
Dialog Malam adalah adalah waktu favorit Brehoh. Di situlah ia berubah wajah. Siang hari ia berapi-api, malam hari ia berbisik. Di warung kopi yang lampunya redup, di teras rumah orang yang dulu ia maki, Brehoh hadir sebagai tamu ramah.
Ia memuji lawan-lawannya dengan kata-kata yang dulu ia haramkan.
“Sebenarnya mereka baik,” katanya.
“Hanya salah paham,” tambahnya.
“Kita ini sama-sama cari makan.”
Orang-orang yang mendengar kabar itu mulai muak. Tapi muak pun lelah jika tak diikuti tindakan. Brehoh memanfaatkan kelelahan itu. Ia tahu, orang kecewa tapi malas ribut. Ia hidup di sela-sela keengganan.
Namun, suatu saat, kebusukan tak lagi bisa disembunyikan.
Api yang Membakar Diri dalam kasus berikutnya lebih besar. Lebih panas. Dan kali ini, terlalu banyak mata. Bahkan medsos rame.
Brehoh kembali muncul sebagai pembela. Kata-katanya lebih lantang, gesturnya lebih dramatis. Ia berjanji tak akan mengulang kesalahan. Ia bersumpah di depan banyak orang.
“Saya belajar dari masa lalu,” katanya. “Sekarang saya lebih bersih.”
Tapi pola tak pernah benar-benar berubah. Uang kembali menjadi ujung. Piti, seperti yang orang kampung bilang dengan nada pahit. Ia kembali datang ke musuh, kembali memuji, kembali menghilang saat keputusan diambil.
Bedanya, kali ini orang tak lagi diam.
“Cukup,” kata seorang tua. “Kau bukan pembela. Kau pedagang.”
Kata itu menyebar. Pelan, tapi pasti.
Brehoh tertawa menanggapinya. Ia kira semua bisa diselesaikan dengan senyum dan alasan. Tapi ia lupa satu hal: kepercayaan, sekali mati, tak bisa dipanggil kembali.
Ia Hilang….suatu pagi, Brehoh tak terlihat lagi. Kendaraannya tak di rumah. Nomornya tak aktif. Ia seperti uap yang menghilang setelah air mendidih terlalu lama.
Orang-orang membicarakannya sebentar, lalu kembali ke hidup mereka. Tak ada patung, tak ada kenangan manis. Yang tersisa hanya pelajaran.
Bahwa kejujuran bukan soal suara keras.
Bahwa keberanian bukan soal berdiri di depan, tapi bertahan di belakang.
Dan bahwa orang yang terlalu sering membela dengan api, biasanya sedang memasak sesuatu untuk dirinya sendiri.
Nama Brehoh perlahan memudar, tapi maknanya tinggal.
Jika suatu hari ada anak muda bicara terlalu lantang, terlalu manis, dan terlalu sering menyebut “demi kalian” sambil melirik amplop di meja, orang kampung hanya saling pandang dan berbisik:
“Jangan-jangan… si Brehoh sedang melakukan pencairan itu dan tak akan datang lagi.” ****

 

(Cerpen) cerita pendek yang sangat pendek…Oleh AMEdita

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansLike
3,912FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles