Majelis Sastra Bandung 17 tahun, Terus Pertahankan Eksistensi Ruang Sastra Sebenarnya
BandungEDUN.COM — Di tengah perubahan lanskap budaya yang semakin cepat dan digital, Majelis Sastra Bandung (MSB) terus mempertahankan eksistensinya sebagai ruang pertemuan sastra. Masuki usia dewasa 17 tahun, komunitas sastra yang berbasis di kota Bandung ini konsisten menggelar kegiatan literasi dan diskusi sastra secara berkelanjutan.
MSB menggelar hajatan pada Minggu, 18 Januari 2026 dengan sajian sederhana namun sarat refleksi di Museum Kota Bandung (MKB), Jalan Aceh 47 kota Bandung.
Didirikan pada 2009, MSB lahir dari kegelisahan sejumlah penyair dan pegiat sastra terhadap minimnya ruang dialog sastra yang terbuka dan berkesinambungan. Sejak awal, MSB memosisikan diri sebagai ruang alternatif—tidak terikat institusi formal—yang memberi kesempatan setara bagi penulis muda maupun senior untuk berbagi karya dan gagasan.
Kyai Matdon, selaku Rois ‘Am MSB mengatakan MSB berdiri pada 25 Januari 2009 di Bandung, digagas oleh para penggiat sastra seperti Dedy Koral, Hermana, Aendra, Hanief, Kyai Matdon, dan sejumlah pegiat lainnya.
Selama perjalanannya, MSB juga telah menerbitkan sejumlah antologi puisi dan karya sastra hasil kerja kolektif para anggotanya. Selain itu, komunitas ini aktif mengadakan kelas menulis, diskusi terbuka, dan kegiatan literasi yang melibatkan masyarakat umum, termasuk pelajar dan mahasiswa.
“Kegiatan utama MSB dikenal dengan sebutan Pengajian Sastra, yang rutin digelar dan diisi dengan pembacaan puisi, diskusi karya, serta pembahasan lintas disiplin, mulai dari sastra, teater, film, hingga musik. Forum ini menjadi medium belajar bersama sekaligus ruang kritik yang cair dan partisipatif,”jelas Matdon.

Hawe Setiawan, Budayawan Bandung/ist
Pada 17 tahun MSB digelar Diskusi dan Budayawan Hawe Setiawan didapuk sebagai narasumber, dengan Farra Yanuar sebagai moderator. Diskusi itu menjadi ruang membaca ulang peta kepenyairan Jawa Barat—antara tantangan regenerasi, perubahan medium, dan keberlangsungan komunitas sastra di tengah derasnya arus digital. Selain itu, Matdon menyampaikan bahwa ada kepala Disbudpar kota Bandung, Adi Junjunan Mustaf ini yang pertama birokrat terlibat di MSB, dan pembacaan puisi Yustia Kusmarlina.
Selama perjalanannya, MSB juga telah menerbitkan sejumlah antologi puisi dan karya sastra hasil kerja kolektif para anggotanya.
Selain itu, komunitas ini aktif mengadakan kelas menulis, diskusi terbuka, dan kegiatan literasi yang melibatkan masyarakat umum, termasuk pelajar dan mahasiswa.
Di tengah dominasi media sosial dan budaya instan, keberadaan MSB dinilai penting sebagai ruang yang menjaga proses kreatif sastra tetap berbasis pertemuan langsung dan dialog mendalam. MSB memilih berjalan perlahan, dengan fokus pada keberlanjutan ruang dan kualitas percakapan, bukan pada popularitas atau viralitas.
Memasuki usia 17 tahun, MSB menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang sastra yang terbuka dan inklusif. Di tengah tantangan zaman, komunitas ini masih percaya bahwa sastra memiliki peran penting dalam merawat daya kritis, kepekaan bahasa, dan refleksi sosial.
(ame/be)
