BandungEdung.com — Tokoh sastra Indonesia, Cecep Syamsul Hari, dalam endorsement untuk Wapen van Holland (Penerbit Padasan, 2025), buku kelima karya Chairil Gibran Ramadhan (CGR) dalam seri Setangkle Puisi Sejarah & Budaya ~ Betawi, Batavia, Jakarta, menulis: “CGR selama ini dikenal sebagai sastrawan sekaligus peneliti sejarah dan budaya Betawi dan menjadikannya sebagai tema sentral prosa dan esai. Kali ini ia mengambil bentuk ungkapan sastrawi lain: puisi, yang disandarkan pada ekspresi skematik bahasa Indonesia dan dialek Betawi yang diberi nuansa kesilaman melalui ragam ejaan. Ini patut diapresiasi. Seorang sastrawan memang harus selalu berada dalam pusaran historisitas bangsanya dan historitas tema, sikap, dan nilai estetis yang dipilihnya. Di pusaran historisitas itu, ia diharapkan mampu menjadi konstitusi semesta yang dapat menarik dan menemukan persinggungan dari benang merah kesilaman, kekinian, dan keakanan. Hanya sastrawan yang memiliki keberanian menjadi konstitusi semesta dari suatu historitas yang mampu melakukan pembaruan. CGR sedang memasuki ranah konstitusi semesta itu.”
Jauh sebelum puisi-puisinya diterbitkan, CGR sudah melakukan eksplorasi atas budaya dan sejarah tanah kelahirannya sebagai tema cerpen dalam semua ejaan yang pernah ada di Indonesia termasuk ragam dialek bahasa Betawi. Membaca cerpen-cerpen karya CGR—mencuat lewat kumpulan cerpen perdana, Sebelas Colen di Malam Lebaran: Setangkle Cerita Betawi (Masup Jakarta, 2008)—kita tidak hanya dibawa menikmati suasana masa lalu yang kental dengan dukungan riset lapangan, riset pustaka dan wawancara, namun juga dukungan penggunaan ragam ejaan yang membuat kita membayangkan suasana pada waktu-waktu lampau. Ini berbeda dengan para penulis pendahulu dari tanah Betawi yang tidak pernah melakukan ekplorasi ragam ejaan dan bahasa (kecuali karya tersebut ditulis dalam tahun-tahun berlakunya ejaan dan bahasa yang ada). CGR juga berbeda dalam mengolah cerpen-cerpennya. Ia tidak hanya menyampaikannya dalam gaya realis namun juga surealis—sesuatu yang tidak ditemukan pada karya M. Balfas, SM Ardan, Zaidin Wahab, atau lainnya.
Puisi di tangan CGR adalah puisi yang terang-benderang, bukan puisi gelap apalagi gelap-gulita yang mengawangkan kata tanpa bisa dijangkau oleh tangan dan kita mengira dalam keraguan. Semua berada di bumi, sebagai hasil riset lapangan, pustaka, dan wawancara. Rencananya, seluruh puisi yang ditulis dan disimpan antara 1996-2006 (menurut CGR karena selama ini ia ingin lebih dikenal sebagai cerpenis dan esais dalam latar yang sama), akan diterbitkan dalam 11 buku: Koningin van het Oosten, Batavia Oud en Nieuw, Bataviastraat, Wapen van Holland, Passer Gambier, Mesigit, Tjenté Manis Hoedjan Gerimis, Graaf de Hollanders, Dajoeng Sampan Dibawah Boelan, Moealim, dan Gedong Bitjara.
“Tjenté Manis Hoedjan Gerimis”, direncanakan terbit pada 11 September 2017. Namun hal tersebut tidak pernah terwujud. Seorang kawan menyarankan rancangan buku seni-budaya-sejarah diajukan kepada lembaga swasta atau tokoh mapan dari bidang seni, budaya, sejarah, politik, bisnis, karena kecil kemungkinan membawa hasil bila diajukan kepada instansi pemerintah. Saran ini tidak pernah ditindak-lanjuti mengingat beberapa pengalaman “buang-buang umur” terkait kalangan yang disangka memiliki nalar budaya dan kedekatan psikologis dengan bahasan setiap buku nyatanya tidak ada yang menyatakan kesediaan menjadi penyandang dana cetak: Kembang Goyang: Orang Betawi Menulis Kampungnya ~ Sketsa, Puisi & Prosa ~ 1900-2000 (Kwee Kek Beng dkk, 2011) dan semua buku terkait seni-budaya-sejarah Betawi; Sejarah Jawa Barat: Penelusuran Masa Silam karya tiga punggawa budaya-sejarah Sunda: Saleh Danasasmita, Yoseph Iskandar, dan Enoch Atmadibrata (terbit pada Februari 2018, dari rencana semula pada Oktober 2014), setelah melanglang di hadapan kalangan politik yang sedang berkuasa di Bekasi, Depok, Bogor, Purwakarta, hingga Bandung Kota dalam kedudukan sebagai bupati, walikota, dan gubernur; Pusaka Tionghoa karya Liem Thian Joe (terbit Januari 2020, dari rencana pada Mei 2013), setelah melanglang di hadapan kalangan Tionghoa Indonesia mapan dari bidang seni, budaya, sejarah, politik, hingga lembaga pendidikan besar, raksasa bisnis perumahan, dan bisnis jalan berbayar.
Selama bertahun-tahun, kalangan Tionghoa Indonesia (pribadi dan lembaga), yang diharapkan memiliki kecerdasan dan kepedulian budaya-sejarah serta memiliki kedekatan psikologis terkait bahasan di dalam buku, tidak ada yang memberi tanggapan saat digugah menjadi pemberi hibah dana pencetakan atau melakukan apresiasi dalam bentuk pembelian seluruh hasil pencetakan yang menampilkan nama dan logo instansi mereka di dalam dan luarnya. Benar apa yang dikatakan Mona Lohanda, sejarawan, arsiparis, dan pengajar di FIB-UI, yang juga seorang Cina Benteng, terkait sulitnya mendapatkan pihak pemberi dana hibah pencetakan atau mengapresiasi dalam bentuk pembelian buku-buku karyanya: “Orang kita pemikirannya memang baru sampai pada urusan perut ke bawah, bukan dada ke kepala. Dari jaman saya muda, ya seperti itu.”
Keberadaan hasil kerja intelektual memang berbeda dengan pemenangan seseorang terkait pemilihan pemimpin Ibukota yang memungkinkan dalam waktu satu jam berkumpul kalangan mapan yang memiliki (tentu saja) kepentingan, terhimpun “dana hibah” sebesar tiga milyar rupiah. Sementara pihak pemerintah yang disangka dan diharapkan memiliki kepedulian-kecerdasan, sedikit pun tidak memiliki ketertarikan pada hasil karya intelektual namun sangat mendukung acara panggung hiburan yang menghabiskan dana sangat besar meski tidak meninggalkan apapun kecuali suara bising dan sampah acara. Semua ikhtiar Penerbit Padasan, belaka hanya membuang waktu, tenaga, dan biaya.
Buku Tjenté Manis Hoedjan Gerimis, sebelumnya ada di dalam rencana Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia/PSMTI dan Penerbit Padasan terkait menghadirkan buku-buku bertema sejarah-budaya kalangan Tionghoa Indonesia. Dua pertemuan pembahasan di tempat yang jauh dan sulit didatangi, berakhir tanpa permintaan maaf dan penjelasan profesional. Ketujuh dummy yang diberi logo PSMTI pada sampul depan-belakang, isi dalam depan-belakang, dan rancangan sambutan dari ketua umum, menjadi kenangan membuang waktu, tenaga, biaya. Kejadian serupa terulang ketika Perhimpunan Indonesia Tionghoa/INTI dan Penerbit Padasan bersepakat untuk melanjutkan rencana PSMTI. Pertemuan pada 18 April 2025 yang ditutup niat baik, lagi-lagi hanya menjadi kenangan. Padahal INTI, konon didukung Sembilan Naga. Tjenté Manis Hoedjan Gerimis memiliki buku sandingan: Dajoeng Sampan Dibawah Boelan.
Sangat-sangat sulit memang berharap kalangan Tionghoa Indonesia dari bidang seni, budaya, sejarah, politik, lembaga pendidikan besar, raksasa bisnis perumahan, dan bisnis jalan berbayar, punya kepedulian pada karya intelektual meski membawa sejarah-budaya nenek moyang di tempat mencari penghidupan yang jauh dari negeri leluhur. Apakah ini bukti–seperti sering disebut Kaum Pribumi–bahwa orang Tionghoa sangat ketat dan bertu(h)an pada uang, sehingga segala sesuatu harus membawa keuntungan materi, dan bukan lainnya? Entahlah, namun lihat fakta ini: The Kapitan Cina of Batavia 1837-1942: A History of Chinese Establishment in Colonial Society, dicetak atas dukungan Ford Foundation milik Amerika (1996) dan KITLV milik Belanda (2001), Growing Pains: The Chinese and The Dutch in Colonial Java 1890-1942, dicetak atas dukungan Toyota Foundation milik Jepang (2002)–buku-buku itu menjadi milik penerbit. Sama sekali tidak ada kontribusi, penghormatan, kecerdasan budaya dan kepedulian sejarah, dari lembaga-lembaga Tionghoa Indonesia terhadap Mona Lohanda, begawan sejarah asal Benteng, Tangerang.
Terkait Tjenté Manis Hoedjan Gerimis. menurut David Kwa, Pengamat Budaya Tionghoa-Peranakan: “Inilah buku puisi pertama di Indonesia yang seluruh isinya mengangkat sejarah dan budaya kalangan Tionghoa Peranakan di Indonesia. Tjenté Manis Hoedjan Gerimis ibarat buku sejarah yang mengajak kita mendatangi setiap lekuk Tanah Betawi pada masa Batavia hingga Jakarta, melihatnya dari sudut pengkisahan melalui puisi, dan kenikmatan membacanya menjadi semakin terasa karena didukung adanya tampilan kosa kata, ragam bahasa dan ragam ejaan yang menguatkan nuansa masa lalu itu—yang hanya bisa diperoleh melalui kerja keras dalam riset lapangan, riset pustaka, pengamatan yang mendalam, dan ketidakengganan bertanya kepada nyang ngarti. Kerja-kerja seperti ini, setau saya, memang kedemenan CGR. Dan jika dilihat rentang waktu penulisannya yang melingkupi kurun waktu antara 1996-2016, berarti bahwa puisi esai yang pernah ramai diberitakan dalam dunia sastra Indonesia pada sekitar tiga tahun lalu, ternyata sudah ditulis jau-jau ari oleh CGR, sastrawan Betawi yang juga penggemar sejarah Batavia dan pengamat budaya Betawi kelahiran kampung Pondok Pinang di Jakarta Selatan ini.
Sedangkan Eka Budianta, Pengamat Sastra, menulis: “Selamat untuk terbitnya buku ini. Saya menyukainya karena telah memperkaya, mengingatkan, dan membuat pembaca kembali meneliti, mencermati apa saja yang dapat kita petik dari masa lalu dan dari berbagai hal yang berbeda. Banyak perbedaan membawa kita menjadi lebih kaya dan lebih kuat. Semoga kumpulan puisi ini mendorong penyair lain dari berbagai latar belakang untuk berani membagikan dunia yang tidak perlu sama dan tidak diasumsikan pasti menyenangkan, sebagaimana yang terbiasa kita jalani sehari-hari. CGR telah memberikan perspektif waktu, perspektif tempat, dan cara berpikir yang berbeda untuk kita nikmati dan kita pahami bersama-sama. Mungkin saja beberapa idiom, logat, kosa-kata, dan temuan dapat diadopsi untuk memperindah jaman sekarang maupun yang akan datang. Misalnya saja, kebiasaan CGR saat menjura, serta menutup komunikasi dengan kata-kata: Tabe srenta hormat!”
Buku ini diluncurkan pada Jum’at, 23 Januari 2026, di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Cikini, menampilkan pembicara Chairil Gibran Ramadhan (Penulis dan Peneliti), Idrus F. Shahab (Mantan Wartawan Senior Majalah Tempo), dan Nuthayla Anwar (Penyair dan Wakil Rektor UIA Al Ghurabba). Acara dipandu M. Syakur Usman dari Forum Jurnalis Betawi dan Muhammad Sartono dari Sahabat Budaya Indonesia, serta pembacaan do’a oleh KH. Rakhmad Zailani Kiki dari MUI Jakarta, yang juga merupakan peneliti dan kolomnis.
Para tokoh yang hadir memberi sambutan: Aba Mardjani (Wartawan Senior), Diki Lukman Hakim (Kepala PDS HB Jassin), M. Rizal Moen’im, SH (Betawi Institute), Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab (Guru Besar FISIP UI), dan Prof. Dr. Edi Sukardi, Guru Besar UHAMKA yang memberi hibah 10 eksemplar Tjenté Manis Hoedjan Gerimis). Adapun Djuhairiyah RM (Betawi Institute), Giyanto Subagiyo (Masyarakat Kesenian Jakarta), Putra Gara (Sastrawan), Sam Mukhtar Chaniago (Dosen FBS UNJ), Sihar Ramses Simatupang (Sastrawan), dan Prof. Tuti Tarwiyah Adi, M.Si. (Dosen FBS UNJ), membacakan puisi.
Acara ini merupakan hasil kerja sama Penerbit Padasan dan PDS HB Jassin, didukung Betawi Institute, PSB UHAMKA, Forum Jurnalis Betawi, Komunitas Literasi Betawi, Sahabat Budaya Indonesia, dan Stamboel: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies, dan mendapat respon dari 25 nama sebagai media pertner: Sinar Harapan, Sporta News, Majalah Jakarta, Monitor Pos, jernih.co, jakartasatu.com, GetPost.id, tinemu.com, wartakansaja.com, Kabar Betawi, corebusiness.co.id, Pribumi News, Warta Trans, Harian Terbit, Sinar Pagi, Pos Kota, infrastruktur.co.id, inventif.id, indowork.id, seni.co.id, abad.id. (RED/BE-RLS)***
